u3-bl
Perundungan bukan tradisi

Pasti kita sering mendengar bullying atau perundungan di sekolah atau di lingkungan pertemanan.Kadang ada orang yang berkata bahwa bullying atau perundungan adalah sebuah “tradisi” atau hal yang wajar.Misalnya dihina,diejek,atau dipanggil dengan julukan yang tidak baik atau menyakitkan itu biasa agar kita bisa diterima teman.Padahal,hal tersebut salah besar .Perundungan bukan tradisi atau sebuah hal yang keren,dan tidak ada alasan untuk diteruskan.

Bullying atau perundungan mempunyai banyak jenis.Ada yang terlihat jelas seperti dipukul,didorong,barangnya dirusak atau disembunyikan.Ada juga yang dilakukan dengan cara halus tapi menyakitkan,misalnya diejek,diasingkan dari teman,atau komentar jahat di media sosial.Kadang hal-hal tersebut dianggap sebagai sebuah candaan atau hanya bermain-main padahal efeknya bisa berat buat korban.Setiap kata atau tindakan yang digunakan untuk merendahkan orang lain sebenarnya meninggalkan luka meski luka itu tidak terlihat oleh orang lain.

Korban bisa merasa takut,minder,dan tidak percaya diri.Mereka bisa tidak memiliki semangat untuk pergi ke sekolah,merasa tidak nyaman bersama temannya,bahkan sakit hati berkepanjangan.Pelaku juga tidak lebih baik kalau kebiasaan menyakiti terus dilakukan, lama-lama bisa jadi orang yang nggak peduli dan kasar.

Kalau bullying dianggap tradisi, itu artinya kita menormalisasi kekerasan. Lingkungan yang sehat justru tercipta ketika semua orang saling peduli dan menghargai. Sekolah, orang tua, dan teman-teman punya peran besar untuk mencegah bullying. Bisa dimulai dari hal sederhana: mengingatkan teman yang salah, menolong korban, dan tidak ikut-ikutan menertawakan atau menyakiti orang lain. Hal-hal kecil ini bisa membuat lingkungan lebih aman dan nyaman.

Perundungan bukan tradisi, dan tidak ada alasan untuk membiarkannya terus terjadi. Setiap orang berhak merasa aman, dihargai, dan diterima apa adanya. Kita semua bisa berperan dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying di sekolah, di rumah, atau di media sosial. Dengan menanamkan rasa empati, menghargai perbedaan, dan menentang perundungan, kita bisa membangun dunia yang lebih sehat dan lebih baik untuk semua orang.

Tidak ada tradisi yang layak membuat seseorang merasa takut atau sakit hati. Mari hentikan perundungan, mulai dari diri sendiri, dan ciptakan lingkungan yang aman,dan nyaman.

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait